Riview Harry Potter and The Half-Blood Prince

September 13, 2019 Add Comment


Sebagai salah satu Potter’s freak fans, begitu denger kabar kalo sekuel keenam Harry Potter : Harry Potter and The Half-Blood Prince akan rilis di Indonesia 16 Juli 2009 kemaren, aku langsung berniat untuk nonton premiernya! HARUS! 😀 Waktu itu aku dan si pacar udah janjian mau nobar bareng temen-temennya si pacar. Ternyata eh ternyata, dua hari sebelum rilis, konter tiket khusus film Harry Potter and The Half-Blood Prince udah dibuka di Ciwalk XXI dan beberapa bioskop lainnya di Bandung. Aku dikasi tau sama temennya si pacar itu dan dia bilang, untuk pemutaran hari Kamis, 16 Juli 2009, udah pada full.

Pas dapet informasi tsb, aku dan si pacar langsung tancap gas ke Ciwalk XXI. Dan benar sekali sodara-sodara! Di konter khusus Harry Potter untuk tanggal 16-20 Juli 2009, antriannya udah kayak ULAR! Panjang banget. Buset dah. Tapi berhubung aku udah niatin banget pengen bisa nonton pas rilis, yauda aku coba untuk ikutan ngantri. Berharap lagi mujur, trus dapet deh tiketnya, minimal buat dua orang lah hehehe 😀

Dan, alhamdulillah.. usaha kita untuk ngantri ga sia-sia. Kita berdua dapet tiket di posisi yang pas! Dan di jam paling pagi pula, jam 12 siang! Hahahaha 😆 Itu artinya, aku akan nonton film Harry Potter and The Half-Blood Prince ini, di hari pertama rilis di Indonesia, dan di pemutaran perdana di Ciwalk XXI, atau (mungkin) juga di Indonesia!! Yippieeee… Seneng banget. Rasanya ituuu, PUAS banget! Hehehe :mrgreen:

Anyway, film Harry Potter sekuel yang keenam ini, menurut aku sekuel yang paling bagus di antara semua sekuel Harry Potter yang lain. Berdasarkan rating di IMDB.com juga film ini berhasil memperoleh rating 8,3 yang artinya ada kemungkinan untuk bisa masuk di jajaran IMDB Top 250 film. Dan juga di Rottentomatoes.com, film yang berdurasi kurang lebih 2 1/2 jam ini mendapatkan rating 86%, di mana di RT ini, yang banyak ngevote adalah orang-orang yang ahli di dunia perfilman, so bisa dipastikan terpercaya 🙂

So far, setelah aku nonton filmnya, aku ngerasa SANGAT PUAS! Terlebih karna sekuel sebelumnya, Harry Potter and The Order of Phoenix, menurut aku jelek banget! Di sekuel tersebut karakter tokohnya ga dapet, terutama karakter si Prof. Dolores Jane Umbridge. Sementara di sekuel yang keenam ini, aku melihat semua karakter udah dengan porsi yang pas. Ga ada yang kurang, ga ada yang kelebihan, semuanya PAS 🙂 Aku ngerasa David Yates udah memperbaiki kesalahannya dan mengobati kekecewaan penonton pada film HP 5 😀

Tapi yang namanya film yang diangkat dari novel, so pasti ga akan sama persis dengan novelnya. Ga semua poin yang ada di novel harus diceritakan di film. Dan secara logika sangat mustahil, novel dengan tebal kurang lebih 800 halaman dibuat ke dalam film berdurasi kurang lebih 2 1/2 jam secara utuh, tanpa kecacatan! Pastinya ada beberapa hal yang akan dihilangkan atau dikurangi porsinya. Dan itu semua aku rasa, ga ikut mengurangi kualitas dan esensi filmnya 🙂

Seperti di film HP 6 ini, ada beberapa kisah tentang keluarga Tom Riddle yang gak diungkap secara detail di filmnya, kemudian juga petualangan pencarian horcrux yang (mungkin) dianggap kurang mendebarkan. Tapi bagi aku, semua udah kerasa pas, karena yang aku tangkap dari nonton film HP 6 ini adalah lebih ke penekanan bahwa Lord Voldemort telah kembali, dan petualangan para auror dalam mencari & memusnahkan horcrux beserta para death eater yang akan segera dimulai :mrgreen: Dari awal, kalo masalah isi cerita, aku emang udah siap mental untuk kecewa, karna dari film pertama sampe film yang keenam ini emang isi ceritanya ga sama persis dengan yang di buku. Tapi dari segi visualisasi dan efek-efek yang digunakan, menurut aku : SOO AWESOME!! Dan bikin nilai jual film ini lebih tinggi dari saudara-saudaranya 😀

Dan ending yang (mungkin) dirasakan ngegantung oleh banyak orang. Menurut aku, ga terlalu ngegantung juga sih, soalnya kan di buku emang itu inti ceritanya. Pencarian horcrux ketiga yang ternyata palsu, Dumbledore meninggal, pertahanan Hogwarts hancur, dan petualangan Harry Hermione Ron beserta para auror yang akan segera dimulai di buku ke-7. So, ending seperti itu justru bikin aku jadi penasaran pada sekuel yang ke-7. Mudah-mudahan kualitasnya semakin baik dari yang ke-6 ini, dan bisa menutup kisah Harry Potter dengan megah dan mengesankan 🙂

Oh iya, satu hal yang mungkin aku rasa kurang dari film ini adalah pada scene pemakaman Albus Dumbledore, kok rasanya kurang megah yah? Seorang penyihir hebat seperti Dumbledore, tapi penghormatan yang di film cuma sebatas pengangkatan tongkat sihir doang. Harusnya bisa lebih dahsyat nih, biar emosi penonton semakin membludak! Hehehe. Tapi ga apa, ini masih lebih baik daripada scene kematian Sirius Black di film HP 5 😀

Aku kasi film Harry Potter and The Half-Blood Prince ini dengan rating 8,5 🙂

Cerita Dewasa Pemerkosaan Anak SMA Yang Ditangkap Oleh Polisi

September 13, 2019 Add Comment
Cerita Dewasa Pemerkosaan
Cerita Dewasa Pemerkosaan 





Cerita Dewasa Pemerkosaan Anak SMA Yang Ditangkap Oleh Polisi - Hati-hati, tulisan ini mengandung spoiler.  Membaca “Bumi Manusia” di layar lebar adalah sebuah usaha untuk berlutut di depan megahnya perjuangan; untuk mencoba, meski pada akhirnya kalah. Stop... Jangan dekati aku...

Hati-hati, tulisan ini mengandung spoiler. Namun, mungkin, ini jenis spoiler yang kamu butuhkan.

Selasa kemarin (13/8) Mojok mendapat undangan menghadiri premiere film Bumi Manusia di Empire XXI Yogyakarta. Gala Premier dibagi ke dalam dua jadwal, yaitu tayang pukul 18.00 dan 20.00. Saya, dan tiga kru Mojok lainnya, kebagian nonton pukul 20.00.

Sejak sore, para penonton, baik yang dapat maupun tidak, sudah memadati Empie XXI. Ngapain lagi kalau bukan nungguin Iqbaal Ramadhan. Sayangnya, Iqbaal berhalangan hadir.

Penayangan Bumi Manusia berlangsung tepat waktu. Acara dibuka dengan sambutan dari sang sutradara Hanung Bramantyo, disusul Gubernur D.I. Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubawana 10. Kecuali Iqbaal, hampir semua pemeran utama turut hadir. Ada Sha Ine Febriyanti yang memerankan Nyai Ontosoroh, Mawar Eva de Jongh sebagai Annelis Mellema, Donny Darmawan sebagai bapaknya Minke, dan Whani Darmawan yang memerankan Darsam.

Malam itu saya ikut “membaca” Bumi Manusia dengan perasaan yang bungah. Sebab saya membawa bayangan yang begini: Sebagai buku, karya Pramoedya Ananta Toer ini sudah menjadi kanon. Posisinya bukan novel lagi, melainkan sudah dianggap sebagai dokumen sejarah (bersama dengan kisah hidup tragis pengarangnya) yang mewakili pergulatan manusia Indonesia melawan kolonialisme.

Tapi kitab klasik ini sudah akan berumur 40 pada tahun depan, membuat saya bertanya-tanya, apakah ada regenerasi pembacanya hari ini? Apakah film ini akan disambut baik oleh pemirsa awal 20-an yang lahir setelah Orde Baru berakhir?

Dan sepertinya, itulah tantangan yang mau dijawab Hanung Bramantyo, yang kemudian setelah saya menonton filmnya, saya anggap berhasil.

Hanung Bramantyo menyusun kronologi film Bumi Manusia dalam fragmen-fragmen. Fragmen ini bisa berdiri sendiri lewat narasi tokoh. Setiap dialog, terlebih yang melibatkan Minke, Ibunda, Nyai Ontosoroh, Jean Marais, Annelies Mellema, dan Robert Suurhorf. Bagi pemburu kata-kata mutiara lewat situs penyedia kutipan, percakapan mereka adalah tambang emas.

Baca juga:  Pernyataan Kebahasaan Pemred Mojok yang Menyesatkan
Bentuk ini mengingatkan saya pada komik digital yang akrab bagi milenial rombongan akhir dan Generasi Z. Komik digital di aplikasi disusun per satu fragmen yang memenuhi layar. Ini memudahkan pembaca untuk mengamati lekat-lekat ilustrasi dan dialog yang sederhana. Saya rasa ini memang kecenderungan baru dari cara menyampaikan sesuatu.

Generasi milenial dan Z dikesankan tidak menyukai teks yang rumit dan berpanjang-panjang. Puisi digital yang pendek dengan kalimat sederhana lebih disukai. Bahkan sudah banyak puisi digital seperti itu yang dibuat menjadi buku. Dan menjadi best seller.

Orang sekarang lebih suka memungut potongan-potongan dan seolah-olah menjadikannya seperti miliknya sendiri. Mereka merasa senasib dengan kalimat-kalimat sederhana seperti itu. Pada titik ini, Hanung Bramantyo cukup berhasil menerjemahkan “Bumi Manusia” untuk milenial dan Generasi Z.

Dialog antara Minke dengan Annelis di tepi danau menjadi fragmen roman yang berbekas di hati pemburu kutipan cinta. Pemilihan Iqbaal Ramadan sebagai Minke juga seleksi menarik. Milenial dan Generasi Z mengenalnya sebagai Dilan, remaja cerdas penjaja rayuan. Sisi romantis yang sudah menempel dalam diri Iqbaal membuat Hanung lebih mudah menghidupkan Minke bagi penonton muda.

Diskusi antara Minke dengan Nyai Ontosoroh soal pekerjaan ditutup dengan salah satu kutipan masyhur Pram: “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.” Sebuah kutipan pendek yang bisa dibawa pulang penonton muda dan dijadikan wording unggahan tiket nonton Bumi Manusia di Instagram.

Ada berapa banyak milenial dan Generasi Z yang sudah ratusan kali mendengar kutipan “Adil sejak dalam pikiran”? Tahukah kamu itu kutipan dari Bumi Manusia tepatnya ketika dialog antara Minke dengan Jean Marais di tepi pantai?

Baca juga:  Kita Anak-Anak yang Bersedih
Penonton muda bahkan tidak perlu mengetahui dinamika hubungan Minke dan Jean di novel Bumi Manusia. Hanung tidak mungkin menjelaskan latar belakang Jean, seorang spandri (serdadu kelas satu) secara tuntas. Namun, kita hanya perlu mencintai kalimat-kalimat mutiara seperti:

“Cinta itu indah, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya,” katanya. Ia juga yang mengutarakan: “Cinta itu indah, terlalu indah yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini.” Dia pula pemilik kata-kata ini: “Belajarlah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.” Petuah-petuah itu selalu diingat Minke.

Apakah cara produksi Hanung ini salah? Tentu tidak. Satu hal yang pasti, mengangkat Bumi Manusia ke layar lebar bukan pekerjaan yang sederhana. Kompleksitas latar sosialnya tidak mungkin dimampatkan menjadi film berdurasi tiga jam. Bagi pembaca karya-karya Pram, eksekusi Hanung mungkin terasa mengganjal. Namun, bagi saya, ia berhasil menghidupkan Bumi Manusia, khususnya Minke dan Nyai Ontosoroh, menjadi entitas yang bisa diakrabi pembaca muda. Terasa dekat, tetapi tidak kehilangan kekuatan. Terutama Nyai Ontosoroh yang diterjemahkan dengan baik oleh Sha Ine Febriyanti.

Seperti bukunya, film Bumi Manusia ditutup oleh kalimat penohok ulu hati dari Nyai Ontosoroh: “Kita sudah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Dada saya mendadak terasa penuh.

Intonasi, mimik wajah, dan tatapan mata Ine Febriyanti seperti memanggil kembali ingatan sejarah lama pertentangan pribumi, Indo, dan kawula kompeni. Ia seperti kesimpulan, seperti foto yang jelas tercetak. Bahwa Indonesia pernah kalah oleh gencetan zaman kolonial. Namun, ada keindahan dari sebuah usaha untuk “mencoba”.

Membaca Bumi Manusia di layar lebar adalah sebuah usaha untuk berlutut di depan megahnya perjuangan, untuk mencoba, meski pada akhirnya kalah. Sebuah pengingat yang bisa dengan mudah diterima oleh “pembaca segala zaman”.

Cerita Dewasa Tante Yang Sedang Memijit Kaki Hingga Berani Membuka Baju

September 11, 2019 Add Comment


Cerita Dewasa Tante
Cerita Dewasa Tante


Ibu Maafkan Aku adalah teruntuk kita semua karena each and every last one of us pernah nyaris, tinggal sedikit lagi, (really-this close!), menelantarkan kebutuhan paling mendasar ibu kita. Kapan terakhir kali kita nelpon ibu di kampung out of no reason? Adakah yang ngubungin Ibu di rumah on daily basis? Kalo lagi banyak masalah sih, pernah..

Gendis termenung di depan rumah masa kecil yang kini terlihat reyot dan miring. Ingatannya lantas terbang nun jauh ke saat-saat kedua orangtuanya masih ada. Masa-masa ketika cinta masih sehangat ubi rebus buatan Ibu. Kemudian Ayah meninggal, meninggalkan kekosongan besar yang dalam keluarga. Yang diisi oleh Banyu, begitu kakak Gendis ini memasuki usia SMA. Masalahnya adalah, Banyu sedikit terlalu berdeterminasi dalam tanggungjawabnya sebagai seorang ‘pilot’. Didikan Banyu kepada kedua adiknya lebih keras daripada ajaran Ayah. Gendis dilarang pacaran karena bisa mengganggu fokus mereka menjadi orang berhasil. Ibulah yang menjadi penengah setiap ribut-ribut antara kedua anaknya. Dan tanpa sepengetahuan mereka berdua, ibu melakukan banyak pengorbanan. Pilot dan dokter jelas bukanlah sekolah yang bisa dicapai dengan nabung dari kerjaan pemecah batu kali, thok. Dalam film ini kita akan melihat Gendis, Banyu, dan si bungsu Satrio, finally realized betapa sehebat apapun mereka sekarang tetap tidak bisa menggantikan segala cinta yang sudah Ibu berikan kepada mereka.

Anak belajar rajin, bekerja keras agar berhasil jadi orang dan bisa membahagiakan orangtua. Namun terkadang anak lupa bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan buat seorang ibu daripada mendengar suara dan bertatap muka dengan anak-anaknya.



Karakter-karakter dalam film ini terasa begitu grounded, kita dibikin bisa memahami keinginan, motivasi, dan cara pikir masing-masing mereka dengan gampang. Kita merasa kita mengerti mereka, kita merasa mereka adalah bagian dari keluarga kita. Film dengan karakter yang baik adalah film yang saat kita melihat tokohnya di awal dan membandingkan mereka dengan saat akhir film, tokoh tersebut sudah menjadi orang yang berbeda. Dan dalam film ini Gendis bukan hanya berubah dari anak cemerlang menjadi seorang dokter. Banyu enggak hanya berevolusi dari anak kecil yang girang liat pesawat ke pemain Jatilan kemudian menjadi seorang pilot beneran. There are a lot more changes on their inside yang bisa kita rasakan throughout.

Mau jadi pilot biar gak norak "minta duit-minta duit!!” sama pesawat yang lewat.
Mau jadi pilot biar gak norak “minta duit-minta duit!!” sama pesawat yang lewat.



Drama yang menyorot kepada tokoh-tokoh ini berhasil menjalankan fungsinya berkat PENAMPILAN AKTING YANG SANGAT BAIK, SECARA MERATA. Bahkan aktor-aktor ciliknya pun bermain dengan fairly acceptable, yah paling enggak mereka enggak annoying. Christine Hakim gives a really subdue performance yang sukses membuat kita khawatir setiap kali dia melayangkan senyum. Saking subdue-nya, terkadang ibu ini nampak keras kepala dan itu hanya membuat kita semakin mengkhawatirkan beliau lagi. Dan adegan saat Ibu melepaskan uneg-unegnya kepada Pak De, I think it was very heartwrenching. Selalu uneasy rasanya ngeliat ibu-ibu menangis; adegan yang satu ini sukses bikin aku feel bad sebagai seorang anak. Meriza Febriani dan Ade Firman Hakim juga berhasil menghidupkan momen-momen emosional karakter mereka. Meski begitu aku berharap film ini nunjukin lebih banyak Ibu, Gendis, Banyu, Satrio sebagai satu keluarga. Aku ingin melihat lebih banyak interaksi mereka, konflik antara mereka, karena berkat penampilan aktingnya kita semua sudah terinvest secara emosional.

I totally understand where Banyu come from. Sebagai anak laki-laki tertua, Banyu merasa teramat bertanggungjawab kepada keluarganya. Ya dia sedikit keras, but it was because menjadi pilot sudah menjadi penting baginya. Pilot sudah bukan lagi sekedar cita-cita. Banyu adalah pilot di rumah dan ia adalah pilot di atas udara. Nobody can take that away from him. Makanya begitu ada cowok yang bilang cinta kepada Gendis dan menawarkan diri untuk nganter-jemput sekolah, Banyu menjadi marah. Panji basically bilang dia bisa menggantikan Banyu sebagai ‘pilot’ buat Gendis.

Kenyataan bahwa Gendis justru mengantagoniskan Banyu is pretty messed up yang sangat menarik karena film ini ngasih hint pada apa yang terjadi jika kita salah mengerti sehingga membuat hati yang beneran peduli menjadi berhenti mempedulikan kita.



Bicara soal Panji, maaan, dia adalah karakter paling nyebelin dalam film ini. Sebenarnya enggak masalah apakah Gendis pacaran atau enggak, masalahnya adalah: Pacaran sama siapa? Panji ini, he was so full of himself. Sedari SMA omongannya sudah begitu tinggi soal cinta, dia begitu yakin Gendis dan dia diciptakan untuk bersama. He comes off too strong. Tapi dia nunjukin rasa cintanya dengan aneh yang justru nunjukin dia ga ngerti cinta. Never once dia membantu keluarga Gendis (or at least try). Kalo aku cinta sama adek orang, aku akan membantu benerin ban sepeda kakaknya yang bocor alih-alih ngacungin jari buat nganter adeknya pulang naik motor. Dan lagi, gimana mereka pacaran diam-diam bisa jadi cara supaya Gendis membikin ibunya bahagia? Seriously, semua kata-kata yang keluar dari mulut Panji saat SMA itu omong kosong gombal belaka, yang membuat relationship antara Gendis dan Panji terasa enggak ada manis-manisnya, malah annoying.
Towards the end orang ini muncul lagi, dan aku benar-benar ngakak. Nih Panji bener-bener, deh! Smug, persistent, so self-centered, apalah namanya WHAT IS THIS GUY? Jadi akhirnya dia dapat apa yang ia inginkan setelah sekian lama, mereka mengadakan pernikahan di sisi pembaringan Ibu yang sakit. Diniatkan sebagai ultimate tearjerker, sepertinya, tetapi enggak bekerja sebagaimana mestinya. Mungkin karena sudah terlalu banyak drama. Yang jelas, adegan nikah palsu buat mancing Raju sembuh di film komedi India 3 Idiots (2009) jauh lebih emosional dibandingkan dengan adegan nikah film ini.

Let me punch him in the face demi Banyu
Let me punch him in the face demi Banyu





Pak De bilang, Ibu kayak topeng: “mulutmu tertawa tetapi dalam hati terluka”. Poster film ini pun ‘menipu’ seperti begitu, liat saja betapa manis senyum para tokoh yang nampang di sana. Actually, ini adalah film DRAMA YANG BENAR-BENAR MENYEDIHKAN. ‘Ibu tertawa’ sebenarnya malah tersirat, hanya ada sedikit adegan beliau kelihatan baik-baik saja dibandingkan dengan apa yang berusaha terus diperlihatkan oleh film ini. Salah satu adegan yang terasa genuine adalah ketika Satrio mengaku dirinya enggak naik kelas dan Ibu enggak marah, malah mencoba menenangkan hati anak paling bontotnya itu. Selebihnya, well, film ini sungguh GLORIFYING KEADAAN SUSAH yang dialami keluarga miskin ini sejak Ayah meninggal dunia. Sedari awal aja kita melihat Gendis dewasa kecipratan becek dari anak-anak kecil yang sedang bermain. Adegan demi adegan dikontruksi dengan tujuan tali emosi di hati kita terus ditarik-tarik. Mereka pulang sekolah dengan gembira only to find orang kampung ngajiin mayat Ayah, ada bully di sekolah, kita melihat Ibu berlari dengan air mata berderai, you know, trope-trope drama sedih seperti demikianlah yang jadi andelan film ini.

Menit-menit awal padahal cukup lumayan. Aku suka opening saat Gendis melihat bayangan dirinya masih kecil bersepeda bareng Ayah. Aku mengira film ini bakalan memanfaatkan flashback sebagai cara bertutur yang unik, mungkin mereka bikin kayak Only Yesterday (1991) dari Studio Ghibli yang tokohnya actually berinteraksi dengan dirinya versi masa lalu. Namun, lebih gampang membuat drama dengan terus menggenjot yang sedih-sedih, dan memang ke sanalah arah film Ibu Maafkan Aku.

Aku enggak bilang sebuah film tidak boleh sedih banget ataupun film ini enggak cocok buat cowok apa gimana. When a drama is good and worked emotionally, it is good. Hanya saja film ini nyekokin yang sedih-sedih ke tenggorokan kita terus-terusan. Tone nya amat sangat depressing. IT GETS REALLY SAPPY. Pemandangan tebing-tebing batu, budaya lokal yang diwakilkan oleh Yogyakarta, digunakan sebagai alat untuk mengeskplorasi tragedi. Settingan waktu tergambar secara visual mengisyaratkan lamanya penderitaan dan pengorbanan sang Ibu. The movie keeps on pushing it, orchestrating even more dramas, sampai ke titik aku berhenti peduli. Saat di midpoint aja udah jelas arah film ini adalah ke kapan Gendis dan Banyu menyadari ‘kebutuhan’ Ibu mereka yang sebenarnya. Filmnya jadi terasa dipanjang-panjangkan. Like, I get it, please get it over with and stop trying to make me cry. Karena trik film ini udah enggak bekerja lagi.

Film ini pun mulai kehilangan pegangannya. It was supposed to be from Gendis’ perspective namun di paruh pertengahan, posisi kita melihat film ini bergeser ke tokoh lain. Dengan transisi yang enggak mulus pula. It was a very convoluted view. Enggak fokus. Bahkan sepertinya film ini lupa sama gimana mereka menceritakan film di awal. Ada perbedaan antara keeping things open dengan kelupaan menjelaskan, film sama sekali enggak membawa kita kembali menutup Gendis di awal cerita. Kenangannya berakhir begitu saja.









Ini adalah drama keluarga yang artifisial secara emosi namun true dan genuine secara karakter. Memancing air mata bukan perkara susah bagi film ini. Diceritakan lewat penampilan akting yang very good, meski fokus perspektifnya makin ke akhir semakin terasa convoluted. It’s right at the heart. Pesannya lugas, manis, menyadarkan akan besarnya jasa Ibu; yang bisa dibilang sebagai unsung hero di dalam setiap keluarga. Sebenarnya punya modal yang cukup untuk membuat penonton terinvest secara emosional. Sayang beribu sayang, arahannya yang biasa saja, cari aman, enggak memberikan keistimewaan apa-apa terhadap film.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for IBU MAAFKAN AKU.

Cerita Sex Tante Yang Sedang di Pijat

September 09, 2019 Add Comment
Cerita Sex Tante
Cerita Sex Tante 


Ibu Maafkan Aku adalah teruntuk kita semua karena each and every last one of us pernah nyaris, tinggal sedikit lagi, (really-this close!), menelantarkan kebutuhan paling mendasar ibu kita. Kapan terakhir kali kita nelpon ibu di kampung out of no reason? Adakah yang ngubungin Ibu di rumah on daily basis? Kalo lagi banyak masalah sih, pernah..

Gendis termenung di depan rumah masa kecil yang kini terlihat reyot dan miring. Ingatannya lantas terbang nun jauh ke saat-saat kedua orangtuanya masih ada. Masa-masa ketika cinta masih sehangat ubi rebus buatan Ibu. Kemudian Ayah meninggal, meninggalkan kekosongan besar yang dalam keluarga. Yang diisi oleh Banyu, begitu kakak Gendis ini memasuki usia SMA. Masalahnya adalah, Banyu sedikit terlalu berdeterminasi dalam tanggungjawabnya sebagai seorang ‘pilot’. Didikan Banyu kepada kedua adiknya lebih keras daripada ajaran Ayah. Gendis dilarang pacaran karena bisa mengganggu fokus mereka menjadi orang berhasil. Ibulah yang menjadi penengah setiap ribut-ribut antara kedua anaknya. Dan tanpa sepengetahuan mereka berdua, ibu melakukan banyak pengorbanan. Pilot dan dokter jelas bukanlah sekolah yang bisa dicapai dengan nabung dari kerjaan pemecah batu kali, thok. Dalam film ini kita akan melihat Gendis, Banyu, dan si bungsu Satrio, finally realized betapa sehebat apapun mereka sekarang tetap tidak bisa menggantikan segala cinta yang sudah Ibu berikan kepada mereka.

Anak belajar rajin, bekerja keras agar berhasil jadi orang dan bisa membahagiakan orangtua. Namun terkadang anak lupa bahwa tidak ada yang lebih membahagiakan buat seorang ibu daripada mendengar suara dan bertatap muka dengan anak-anaknya.



Karakter-karakter dalam film ini terasa begitu grounded, kita dibikin bisa memahami keinginan, motivasi, dan cara pikir masing-masing mereka dengan gampang. Kita merasa kita mengerti mereka, kita merasa mereka adalah bagian dari keluarga kita. Film dengan karakter yang baik adalah film yang saat kita melihat tokohnya di awal dan membandingkan mereka dengan saat akhir film, tokoh tersebut sudah menjadi orang yang berbeda. Dan dalam film ini Gendis bukan hanya berubah dari anak cemerlang menjadi seorang dokter. Banyu enggak hanya berevolusi dari anak kecil yang girang liat pesawat ke pemain Jatilan kemudian menjadi seorang pilot beneran. There are a lot more changes on their inside yang bisa kita rasakan throughout.

Mau jadi pilot biar gak norak "minta duit-minta duit!!” sama pesawat yang lewat.
Mau jadi pilot biar gak norak “minta duit-minta duit!!” sama pesawat yang lewat.



Drama yang menyorot kepada tokoh-tokoh ini berhasil menjalankan fungsinya berkat PENAMPILAN AKTING YANG SANGAT BAIK, SECARA MERATA. Bahkan aktor-aktor ciliknya pun bermain dengan fairly acceptable, yah paling enggak mereka enggak annoying. Christine Hakim gives a really subdue performance yang sukses membuat kita khawatir setiap kali dia melayangkan senyum. Saking subdue-nya, terkadang ibu ini nampak keras kepala dan itu hanya membuat kita semakin mengkhawatirkan beliau lagi. Dan adegan saat Ibu melepaskan uneg-unegnya kepada Pak De, I think it was very heartwrenching. Selalu uneasy rasanya ngeliat ibu-ibu menangis; adegan yang satu ini sukses bikin aku feel bad sebagai seorang anak. Meriza Febriani dan Ade Firman Hakim juga berhasil menghidupkan momen-momen emosional karakter mereka. Meski begitu aku berharap film ini nunjukin lebih banyak Ibu, Gendis, Banyu, Satrio sebagai satu keluarga. Aku ingin melihat lebih banyak interaksi mereka, konflik antara mereka, karena berkat penampilan aktingnya kita semua sudah terinvest secara emosional.

I totally understand where Banyu come from. Sebagai anak laki-laki tertua, Banyu merasa teramat bertanggungjawab kepada keluarganya. Ya dia sedikit keras, but it was because menjadi pilot sudah menjadi penting baginya. Pilot sudah bukan lagi sekedar cita-cita. Banyu adalah pilot di rumah dan ia adalah pilot di atas udara. Nobody can take that away from him. Makanya begitu ada cowok yang bilang cinta kepada Gendis dan menawarkan diri untuk nganter-jemput sekolah, Banyu menjadi marah. Panji basically bilang dia bisa menggantikan Banyu sebagai ‘pilot’ buat Gendis.

Kenyataan bahwa Gendis justru mengantagoniskan Banyu is pretty messed up yang sangat menarik karena film ini ngasih hint pada apa yang terjadi jika kita salah mengerti sehingga membuat hati yang beneran peduli menjadi berhenti mempedulikan kita.



Bicara soal Panji, maaan, dia adalah karakter paling nyebelin dalam film ini. Sebenarnya enggak masalah apakah Gendis pacaran atau enggak, masalahnya adalah: Pacaran sama siapa? Panji ini, he was so full of himself. Sedari SMA omongannya sudah begitu tinggi soal cinta, dia begitu yakin Gendis dan dia diciptakan untuk bersama. He comes off too strong. Tapi dia nunjukin rasa cintanya dengan aneh yang justru nunjukin dia ga ngerti cinta. Never once dia membantu keluarga Gendis (or at least try). Kalo aku cinta sama adek orang, aku akan membantu benerin ban sepeda kakaknya yang bocor alih-alih ngacungin jari buat nganter adeknya pulang naik motor. Dan lagi, gimana mereka pacaran diam-diam bisa jadi cara supaya Gendis membikin ibunya bahagia? Seriously, semua kata-kata yang keluar dari mulut Panji saat SMA itu omong kosong gombal belaka, yang membuat relationship antara Gendis dan Panji terasa enggak ada manis-manisnya, malah annoying.
Towards the end orang ini muncul lagi, dan aku benar-benar ngakak. Nih Panji bener-bener, deh! Smug, persistent, so self-centered, apalah namanya WHAT IS THIS GUY? Jadi akhirnya dia dapat apa yang ia inginkan setelah sekian lama, mereka mengadakan pernikahan di sisi pembaringan Ibu yang sakit. Diniatkan sebagai ultimate tearjerker, sepertinya, tetapi enggak bekerja sebagaimana mestinya. Mungkin karena sudah terlalu banyak drama. Yang jelas, adegan nikah palsu buat mancing Raju sembuh di film komedi India 3 Idiots (2009) jauh lebih emosional dibandingkan dengan adegan nikah film ini.

Let me punch him in the face demi Banyu
Let me punch him in the face demi Banyu





Pak De bilang, Ibu kayak topeng: “mulutmu tertawa tetapi dalam hati terluka”. Poster film ini pun ‘menipu’ seperti begitu, liat saja betapa manis senyum para tokoh yang nampang di sana. Actually, ini adalah film DRAMA YANG BENAR-BENAR MENYEDIHKAN. ‘Ibu tertawa’ sebenarnya malah tersirat, hanya ada sedikit adegan beliau kelihatan baik-baik saja dibandingkan dengan apa yang berusaha terus diperlihatkan oleh film ini. Salah satu adegan yang terasa genuine adalah ketika Satrio mengaku dirinya enggak naik kelas dan Ibu enggak marah, malah mencoba menenangkan hati anak paling bontotnya itu. Selebihnya, well, film ini sungguh GLORIFYING KEADAAN SUSAH yang dialami keluarga miskin ini sejak Ayah meninggal dunia. Sedari awal aja kita melihat Gendis dewasa kecipratan becek dari anak-anak kecil yang sedang bermain. Adegan demi adegan dikontruksi dengan tujuan tali emosi di hati kita terus ditarik-tarik. Mereka pulang sekolah dengan gembira only to find orang kampung ngajiin mayat Ayah, ada bully di sekolah, kita melihat Ibu berlari dengan air mata berderai, you know, trope-trope drama sedih seperti demikianlah yang jadi andelan film ini.

Menit-menit awal padahal cukup lumayan. Aku suka opening saat Gendis melihat bayangan dirinya masih kecil bersepeda bareng Ayah. Aku mengira film ini bakalan memanfaatkan flashback sebagai cara bertutur yang unik, mungkin mereka bikin kayak Only Yesterday (1991) dari Studio Ghibli yang tokohnya actually berinteraksi dengan dirinya versi masa lalu. Namun, lebih gampang membuat drama dengan terus menggenjot yang sedih-sedih, dan memang ke sanalah arah film Ibu Maafkan Aku.

Aku enggak bilang sebuah film tidak boleh sedih banget ataupun film ini enggak cocok buat cowok apa gimana. When a drama is good and worked emotionally, it is good. Hanya saja film ini nyekokin yang sedih-sedih ke tenggorokan kita terus-terusan. Tone nya amat sangat depressing. IT GETS REALLY SAPPY. Pemandangan tebing-tebing batu, budaya lokal yang diwakilkan oleh Yogyakarta, digunakan sebagai alat untuk mengeskplorasi tragedi. Settingan waktu tergambar secara visual mengisyaratkan lamanya penderitaan dan pengorbanan sang Ibu. The movie keeps on pushing it, orchestrating even more dramas, sampai ke titik aku berhenti peduli. Saat di midpoint aja udah jelas arah film ini adalah ke kapan Gendis dan Banyu menyadari ‘kebutuhan’ Ibu mereka yang sebenarnya. Filmnya jadi terasa dipanjang-panjangkan. Like, I get it, please get it over with and stop trying to make me cry. Karena trik film ini udah enggak bekerja lagi.

Film ini pun mulai kehilangan pegangannya. It was supposed to be from Gendis’ perspective namun di paruh pertengahan, posisi kita melihat film ini bergeser ke tokoh lain. Dengan transisi yang enggak mulus pula. It was a very convoluted view. Enggak fokus. Bahkan sepertinya film ini lupa sama gimana mereka menceritakan film di awal. Ada perbedaan antara keeping things open dengan kelupaan menjelaskan, film sama sekali enggak membawa kita kembali menutup Gendis di awal cerita. Kenangannya berakhir begitu saja.









Ini adalah drama keluarga yang artifisial secara emosi namun true dan genuine secara karakter. Memancing air mata bukan perkara susah bagi film ini. Diceritakan lewat penampilan akting yang very good, meski fokus perspektifnya makin ke akhir semakin terasa convoluted. It’s right at the heart. Pesannya lugas, manis, menyadarkan akan besarnya jasa Ibu; yang bisa dibilang sebagai unsung hero di dalam setiap keluarga. Sebenarnya punya modal yang cukup untuk membuat penonton terinvest secara emosional. Sayang beribu sayang, arahannya yang biasa saja, cari aman, enggak memberikan keistimewaan apa-apa terhadap film.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for IBU MAAFKAN AKU.